Images

Tipe Makna Bahasa Mandailing (Semantik)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 
Bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang berdasarkan kesepakatan atau konvensional sosial untuk digunakan sebagai sarana komunikasi. Masyarakatlah yang melakukan kesepakatan sosial terhadap bahasa yang akan digunakannya. Dengan kata lain, bahasa tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya. Pemahaman terhadap penggunaan bahasa yang benar secara tulisan dan lisan berdasarkan pada aturan-aturan bahasa yang tertulis di buku-buku kebahasaan dan disepakati sebagai kaidah bahasa yang baku. Namun pada pelaksanaannya penggunaan bahasa memiliki mkana yang berbeda-beda ditanggapi oleh setiap orang. Makna ini dikaji dalam bidang ilmu semantik. Lebih sempit lagi makna-makna yang tersebut dibahas dalam sub bab Tipe makna. Bahasa Mandailing adalah salah satu bahasa daerah dan juga merupakan bahasa ibu orang-orang bersuku Mandailing yang tinggal di Propinsi Sumatera Utara, terutama di daerah Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Angkola, Padang Lawas, Sibuhuan, Padang Sidempuan, dan beberapa daerah lainnya. Tipe makna yang akan dibahas adalah tipe makna dalam bahasa Mandailing yang merupakan pembahasan yang sama dengan tipe makna dalam bahasa Indonesia. Makalah ini berjudul Tipe Makna dalam Bahasa Bahasa Mandailing yang akan mencoba membahas pengertian dan contoh-contoh makna apa saja yang sering digunakan oleh masyarakat bersuku Mandailing dalam percakapan dan kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan tipe makna.

 1.2 Masalah
Sampai saat ini, belum ada penguraian dan pengidentifikasian terhadap tipe makna dalam bahasa Mandailing. Itulah sebabnya makalah ini mengangkat permasalahan tersebut agar pembaca mengetahui apa saja yeng tergolong tipe makna dalam bahasa Mandailing.

1.3 Landasan Teori
Teori yang digunakan dalam makalah yang berjudul Tipe Makna dalam Bahasa Mandailing adalah tipe makna secara umum yakni: kesamaan objek, kesamaan sifat, dan kesamaan pristiwa atau aktivitas .

1.4 Tujuan 
• Mengetahui kata, frase, dan kalimat yang tergolong tipe makna dalam bahasa Mandailing.
• Mengetahui bentuk- bentuk tipe makna dalam pengidentifikasian yang terdapat dalam bahasa Mandailing. 

BAB II
TIPE MAKNA DALAM BAHASA MANDAILING

 2.1 Tipe Makna
Tipe makna adalah kajian makna berdasarkan tipenya. Tipe adalah pengelompokkan sesuatu berdasarkan kesamaan objek, kesamaan ciri atau sifat yang dimiliki benda, hal, pristiwa atau aktivitas lainnya. ( Djajasudarma: 17). Tipe tipe makna dikemukakan oleh Leech (1974), yang membagi tipe makna menjadi tiga bagian besar: (1) makna konseptual, (2) Makna asosiatif, (3) makna tematis; dan lima bagian yang termasuk tipe makna asosiatif, yakni (4) makna konotatif, (5) makna stilistika, (6) makna afektif, (7) makna refleksi, dan (8) makna kolokatif.

1) Makna Konseptual Makna konseptual (kadang-kadang disebut makna denotatif atau kognitif) dalam pengertian luas dianggap faktor sentral dalam komunikasi bahasa dan hal itu dapat ditunjukkan sebagai sesuatu yang padu bagi fungsi esensial atas suatu bahasa, tidak seperti tipe-tipe makna yang lain.
 2) Makna Asosiatif Makna asosiatif merupakan gabungan dari makna konotatif, stilistik, afektif, refleksi dan kolokatif yang memiliki karakter terbuka, tanpa batas dan memungkinkan dilakukannya analisis menurut skala atau jarak dan bukannya suatu analisis yang diseret, yang harus begini atau begitu.
3) Makna Konotatif Makna konotatif merupakan nilai komunikatif dari suatu ungkapan menurut apa yang diacu, melebihi di atas isinya yang murni konseptual. Makna konotatif meliputi ‘sifat putatif’ dari acuannya, disebabkan oleh pandangan yang diterima oleh individu atau sekelompok ataupun seluruh anggota masyarakat.
 4) Makna Stilistik dan Afektif Makna stilistik adalah makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosial penggunaannya. Makna stilistik dapat didekoding dari suatu teks melalui pengenalan terhadap berbagai dimensi dan tingkat penggunaannya di dalam lingkup suatu bahasa. Sedangkan makna afektif yaitu istilah yang dipakai untuk suatu jenis makna, seringkali secara eksplisit diwujudkan dengan kandungan konseptual atau konotatif dan kata-kata yang dipergunakan.
 5) Makna Refleksi Makna refleksi adalah makna yang timbul dalam hal makna konseptual ganda, jika suatu pengertian kata membentuk sebagian dari respons kita terhadap pengertian lain.
 6) makna Kolokatif Makna kolokatif terdiri atas asosiasi-asosiasi yang diperoleh suatu kata, yang disebabkan oleh makna kata-kata yang cenderung muncul di dalam lingkungannya. 
7) Makna Tematik Makna tematik atau makna yang dikomunikasikan menurut urutan, fokus dan penekanan.

Namun dalam makalah ini akan dibahas mengenai tipe makna secara umum dalam bahasa Mandailing. Ada pun tipe makna secara umum antara lain:

1. Kesamaan Objek 
Tipe ini terjadi sebagai akibat adanya kesamaan sasaran suatu benda atau objek dengan objek lain.
Contoh dalam bahasa Mandailing :
1. Angin Sipurpuron diartikan sebagai nafas.
2. Gondang artinya gendang, gordang artinya gondang yang bentuknya agak kecil.
3. Bombat yaitu suara gondang yang memberitahukan adanya bahaya.
4. Bombat peninggungi yaitu suara gondang yang memberitahukan bahwa raja sakit keras.
5. Kata angin dalam bahasa Mandailing berarti angin. Dalam pemakaian, terdapat beberapa jenis angin yaitu: angin pata-pata aris (angin badai), angin markalincuncung (angin putting beliung), angin satua gada (angin topan).
6. Pasak turiang nagari artinya raja, mempunyai kesamaan dengan puang oloan yang artinya juga raja dalam bahasa Mandailing.
7. Partungkup raja artinya desa atau kampong.

 2. Kesamaan Ciri Atau Sifat 
Kesamaan cirri dan sifat adalah dua hal yang memiliki ciri atau sifat yang sama namun berbeda objek. Objek yang diperumpamakan adalah hewan atau tumbuhan sedangkan yang menjadi acuan adalah manusia. Dalam bahasa Mandailing, hal seperti ini banyak terdapat pada peribahasa bahasa Mandailing.
Contoh: a. Sohon buhu manyosoi (peribahasa) yang berarti seperti kayu yang menyesak. Maksudnya, kayu yang mempunyai ruas biasanya mempunyai batas ruas. Apabila kayu itu mempunyai batas ruas, ruas kayu itu pun akan menjadi kuat. Peribahasa ini ditujukan untuk orang yang ingin selalu ke tengah, masing-masing menonjolkan diri.
b. Songon joraton pusuk ni sano. (peribahasa) yang berarti Seperti jeratan pucuk labu. Maksudnya, orang yang baik budi dan tidak banyak tingkahnya.
c. Songon sarumpaet na lobat bunga,(peribahasa) maksudnya seseorang yang sedang dalam keadaan cantik, atau sedang dalam keindahannya.
d. Songon sirumondop manguasa langit (peribahasa). Maksudnya, orang yang hina dan miskin menolong atau membantu orang yang kaya.
e. Pada pantun, yang menggambarkan kemarahan seorang pemuda kepada seorang dara atau gadis: Tak si uning-uning Tak si palu-palu Tak utengku o’le bujing Na sora di au Artinya: tak seruling si uning-uning Tak tumbuhan si palu-palu Tak wahai dara saying Yang tak mau kepadaku.

 3. Kesamaan peristiwa atau aktivitas lainnya
Sesuatu yang dianggap memiliki hubugan erat sehingga menimbulkan hal yang dianggap sama mengenai peristiwa, keadaan, dan aktivitas. Contoh: a. Narobi yang artinya masa atau zaman. Dalam bentukan kata yang baru seperti: - Na itom narobi artinya masa orang Hindu sampai ke Angkola/Mandailing. - Nabontar artinya masa orang Eropa sampai ke Angkola/Mandailing. - Narinca artinya masa Tuanku Nan Receh sampai ke Angkola/Mandailing. b. Kata ‘mati’ dalam bahasa Indonesia, memiliki ragam bahasa dalam bahasa Mandailing (bahasa ratapan (hata andung), bahasa makian (huta teas), bahasa perdatoan (Huta Sibaso), bahasa jika berada di hutan (Hata Parkapur), bahasa umum (Hata Somal) dan yaitu: mate, jumolo, malongas, marobur, arkar tapu-tapu. Semua kata tersebut memiliki arti ‘mati’.
Demikianlah beberapa contoh dan pembahasan mengenai tipe makna dalam bahasa Mandailing. .

BAB. III SIMPULAN DAN SARAN 

I. SIMPULAN
Tipe makna merupakan cabang ilmu semantik yang juga membicarakan tentang makna. Tipe makna dalam bahasa Mandailing umumnya banyak terdapat dalam unsur-unsur karya sastra yang dimiliki oleh masyarakat Mandailing seperti peribahasa, pantun maupun puisi. Selain itu ada juga bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat dalam percakapan dan kehidupan sehari-hari agar yang menjadi bahan untuk tipe makna meliputi kesamaan objek, kesamaan ciri atau sifat, dan kesamaan pristiwa atau aktivitas.

 II. SARAN
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurang pada makalah yang disusun ini sehingga perlu afanya saran dan masukan dari berbagai pihak agar terciptanya makalah yang lebih baik untuk selanjutnya. Tipe makna tidak hanya dipelajari dan diidentifikasikan dalam bahasa Indonesia saja, melainkan bahasa daerah juga perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu perlu diadakannya penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan tulisan yang lebih rinci dan lebih lengkap di kemudian hari.

 DAFTAR PUSTAKA

Siregar, H. ahmad Samin. 1997. Bunga Rampai Sastra Tradisi di Indonesia. Medan: USU Press
Images

Dompet

“Sial !!! Kemana perginya dompetku?! Aku tidak pernah lupa ataupun khilaf meletakkannya di atas bajuku. Adakah orang yang masuk kemari dan mengambilnya??! Dasar laknat!!!
            Bari mengumpat – umpat semuanya sambil mengobrak - abrik semua benda yang ada di kamarnya. Mulai dari tas kuliahnya, segala isi lemari dan perabotan yang ada di kamarnya.
            “Sudahlah. Mungkin kau lupa meletakkannya.” Yoga mencoba menenangkan Bari yang masih saja sibuk berputar – putar dalam kamarnya.
“Setiap manusia pasti ada khilaf dan lupanya. Kita telah berteman dari kecil. Tidak mungkin diantara kita ada yang ingin mencuri dompetmu. Lagi pula dompetmu kan tidak pernah ada isinya.”jelas Jeri sambil tersenyum diikuti Yoga setelah mendangar kata – kata Jeri.
“Kalian saja!! Keluar masuk rumah tidak pernah mengunci pintu depan!”Ucap Bari kesal.
Siang itu, suasana rumah yang baru saja di sewa oleh Bari, Yoga, Jeri, dan Rusli sebulan yang lalu terdengar agak ricuh karena Bari yang kehilangan dompetnya. Sejak pergi kuliah tadi pagi, ia resah karena ia menduga dompetnya hilang atau tertinggal di kamarnya.
“Sudahlah Bari. Mari kita makan. Aku baru saja membeli nasi untuk kita di warung sebelah.” Jeri mengajak Bari dan Yoga untuk makan siang.
“Bagaimana aku bisa makan. Seleraku hilang. Bagiku, dompet itulah makananku sekarang. Mengapa kalian tidak mau membantuku sama sekali?! Dimana solidaritas kalian?!” Bari masih saja menggerutu seprti gerbong kereta yang tidak putus – putus.
“Apa tidak sebaiknya kita makan terlebih dahulu, agar ada tenaga yang kita dapat untuk mencari dompetmu nanti?”tegas Yoga.
“Ia juga. Barangkali kau dapat mengingat dimana kau meletakkan dompetmu yang hilang itu.” Tambah Jeri menyetujukan perkataan Yoga.
 “Baiklah, ayo kita makan terkebih dahulu. Selesai makan, kalian harus membantuku mencarinya seisi rumah ini! Karena di dalam dompet tersebut, ada SIM dan STNK temanku yang dititipkannya padaku semalam, dan aku lupa mengembalikannya.”ucap Bari denga nada lelah dan sedikit kecewa.
“Makanya, jangan bisanya cuma minjam saja.”ucap Rusli yang baru saja masuk dari luar.
Bari hanya memasang wajah ketat sambil menggaruk - garuk kepalanya yang dirasanya hampir lepas karena kehilangan dompet yang hanya berisi SIM dan STNK milik Doni yang dipinjamnya untuk mengantar Dewi pulang semalam, sementara temannya yang lain tampak hanya senyum – senyum mendengar perkataan Rusli sambil menciduk nasi ke piring masing – masing.
Selesai makan, semuanya merasa kekenyangan. Tiba – tiba saja perut Bari menyalak – nyalak minta ke belakang karena terlalu banyak memakan sambal. Karena tidak tahan lagi, Bari berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan teman yang lain untuk membuang sisa makanan yang tidak dapat disaring oleh tubuh.       
Di kamar mandi, sambil menutup hidung, Bari merenung dan mengingat kembali dimana ia meletakkan dompetnya semalam. Namun ia tetap tidak ingat dimana ia meletakkan dompetnya terakhir kali. Setelah selesai mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan dari perutnya, Bari merapikan celana dan berjalan ke pintu keluar kamar mandi. Namun ketika hendak membuka pintu kamar mandi, sekilas ia melihat benda hitam di dalam timba yang tergantung di balik pintu. Merasa penasaran, Bari mengambil dan melihat isi dari timba tersebut. Ia terkejut, ternyata dompet yang ia cari sejak tadi ada di dalam timba tersebut. Ia baru saja ingat kalau semalam, hal yang sama terjadi padanya. Perutnya mulas dan ingin segera ke belakang. Karena terburu – buru ia meletakkan dompetnya sembarangan yaitu di dalam timba di belakang pintu kamar mandi.
Tidak hanya lega karena mulas di perutnya hilang, Bari keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega yang tiada tara dan tersenyum bahagia sambil menggenggam dompet kesayangannya yang jarang ada isinya. Sementara Yoga, Jeri, dan Rusli berebut minuman karena kepedasan.
“Setiap manusia pasti ada khilaf dan lupanya.” Bari tersenyum kembali mengingat ucapan Jeri yang masih saja terngiang di benaknya.

Images

Sastra Indonesia



1 Periodisasi
2 Pujangga Lama
2.1 Karya Sastra Pujangga Lama
2.1.1 Sejarah
2.1.2 Hikayat
2.1.3 Syair
2.1.4 Kitab agama
3 Sastra Melayu Lama
3.1 Karya Sastra Melayu Lama
4 Angkatan Balai Pustaka
5 Pujangga Baru
5.1 Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
6 Angkatan 1945
6.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
7 Angkatan 1950 - 1960-an
7.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
8 Angkatan 1966 - 1970-an
8.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
9 Angkatan 1980 - 1990an
9.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
10 Angkatan Reformasi
10.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
11 Angkatan 2000-an
11.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
12 Cybersastra
13 Pranala luar
14 Referensi
  
Periodisasi

Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
lisan
tulisan

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
Angkatan Pujangga Lama
Angkatan Sastra Melayu Lama
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Pujangga Baru
Angkatan 1945
Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan 1980 - 1990-an
Angkatan Reformasi
Angkatan 2000-an

Pujangga Lama

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
                 
Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
Sejarah Melayu (Malay Annals)
HikayatHikayat Abdullah
Hikayat Aceh
Hikayat Amir Hamzah
Hikayat Andaken Penurat
Hikayat Bayan Budiman
Hikayat Djahidin
Hikayat Hang Tuah
Hikayat Iskandar Zulkarnain
Hikayat Kadirun         Hikayat Kalila dan Damina
Hikayat Masydulhak
Hikayat Pandawa Jaya
Hikayat Pandja Tanderan
Hikayat Putri Djohar Manikam
Hikayat Sri Rama
Hikayat Tjendera Hasan
Tsahibul Hikayat

Syair
Syair Bidasari
Syair Ken Tambuhan
Syair Raja Mambang Jauhari
Syair Raja Siak

Kitab agama
Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri

Sastra Melayu Lama

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra Melayu LamaRobinson Crusoe (terjemahan)
Lawan-lawan Merah
Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
Kapten Flamberger (terjemahan)
Rocambole (terjemahan)
Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
Cerita Nyi Paina
Cerita Nyai Sarikem
Cerita Nyonya Kong Hong Nio          Nona Leonie
Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
Cerita Rossina
Nyai Isah oleh F. Wiggers
Drama Raden Bei Surioretno
Syair Java Bank Dirampok
Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
Tambahsia
Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
Nyai Permana
Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]

Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
1.      Merari Siregar
Azab dan Sengsara (1920)
Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
Cinta dan Hawa Nafsu

2.      Marah Roesli
Siti Nurbaya (1922)
La Hami (1924)
Anak dan Kemenakan (1956)

3.      Muhammad Yamin
Tanah Air (1922)
Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

4.      Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
Cinta yang Membawa Maut (1926)
Salah Pilih (1928)
Karena Mentua (1932)
Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
Hulubalang Raja (1934)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

5.      Tulis Sutan Sati
Tak Disangka (1923)
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Membalas Guna (1932)
Memutuskan Pertalian (1932)

6.      Djamaluddin Adinegoro
Darah Muda (1927)
Asmara Jaya (1928)

7.      Abas Soetan Pamoentjak
Pertemuan (1927)

8.      Abdul Muis
Salah Asuhan (1928)
Pertemuan Djodoh (1933)

9.      Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1932)
Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
















Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.

Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.

Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
1.      Sutan Takdir Alisjahbana
Dian Tak Kunjung Padam (1932)
Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
Layar Terkembang (1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)

2.      Hamka
Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

3.      Armijn Pane
Belenggu (1940)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)

4.      Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1927)
Madah Kelana (1931)
Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
Kertajaya (1932)
5.      Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1937)
Begawat Gita (1933)
Setanggi Timur (1939)
           
6.      Roestam Effendi
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
Pertjikan Permenungan
7.      Sariamin Ismail
Kalau Tak Untung (1933)
Pengaruh Keadaan (1937)

8.      Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
Sukreni Gadis Bali (1936)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)

9.      J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)
Fatimah Hasan Delais
Kehilangan Mestika (1935)

10.  Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)

11.  Karim Halim
Palawija (1944)


















Angkatan 1945

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
1.      Chairil Anwar
Kerikil Tajam (1949)
Deru Campur Debu (1949)

2.      Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)

3.      Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan

4.      Achdiat K. Mihardja
Atheis (1949)
Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)

5.      Utuy Tatang Sontani
Suling (drama) (1948)
Tambera (1949)
Awal dan Mira - drama satu babak (1962)

6.      Suman Hs.
Kasih Ta' Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Pertjobaan Setia (1940)





Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an

1.      Pramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Gadis Pantai (1965)

2.      Nh. Dini
Dua Dunia (1950)
Hati jang Damai (1960)

3.      Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

4.      Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950)
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Tanah Gersang (1964)
Si Djamal (1964)
Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951)
Pahlawan Minahasa (1957)


5.      Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
Pertemuan Kembali (1961)
6.      Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)         

7.      Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)

8.      Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)

9.      W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang (1963)

10.  Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)

11.  Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)

12.  Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)

13.  Toha Mochtar
Pulang (1958)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)

14.  Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963)

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966

1.      Taufik Ismail
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Tirani dan Benteng
Buku Tamu Musim Perjuangan
Sajak Ladang Jagung
Kenalkan
Saya Hewan
Puisi-puisi Langit

2.      Sutardji Calzoum Bachri
O
Amuk
Kapak

3.      Abdul Hadi WM
Meditasi (1976)
Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
Tergantung Pada Angin (1977)

4.      Sapardi Djoko Damono
Dukamu Abadi (1969)
Mata Pisau (1974)

5.      Goenawan Mohamad
Parikesit (1969)
Interlude (1971)
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
Seks, Sastra, dan Kita (1980)
6.      Umar Kayam
Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Sri Sumarah dan Bawuk
Lebaran di Karet
Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
Kelir Tanpa Batas
Para Priyayi
Jalan Menikung

7.      Danarto
Godlob
Adam Makrifat
Berhala

8.      Nasjah Djamin
Hilanglah si Anak Hilang (1963)
Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)

9.      Putu Wijaya
Bila Malam Bertambah Malam (1971)
Telegram (1973)
Stasiun (1977)
Pabrik
Gres
Bom   

10.  Djamil Suherman
Perjalanan ke Akhirat (1962)
Manifestasi (1963)

11.  Titis Basino
Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
Lesbian (1976)
Bukan Rumahku (1976)
Pelabuhan Hati (1978)
Pelabuhan Hati (1978)

12.  Leon Agusta
Monumen Safari (1966)
Catatan Putih (1975)
Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
Hukla (1979)

13.  Iwan Simatupang
Ziarah (1968)
Kering (1972)
Merahnya Merah (1968)
Keong (1975)
RT Nol/RW Nol
Tegak Lurus Dengan Langit

  1. M.A Salmoen
Masa Bergolak (1968)

  1. Parakitri Tahi Simbolon
Ibu (1969)

  1. Chairul Harun
Warisan (1979)

  1. Kuntowijoyo
Khotbah di Atas Bukit (1976)

  1. M. Balfas
Lingkaran-lingkaran Retak (1978)

  1. Mahbub Djunaidi
Dari Hari ke Hari (1975)

  1. Wildan Yatim
Pergolakan (1974)

  1. Harijadi S. Hartowardojo
Perjanjian dengan Maut (1976)

  1. Ismail Marahimin
Dan Perang Pun Usai (1979)

  1. Wisran Hadi
Empat Orang Melayu
Jalan Lurus











Angkatan 1980 - 1990an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.

Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.

Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
  1. Ahmadun Yosi Herfanda
Ladang Hijau (1980)
Sajak Penari (1990)
Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
Sembahyang Rumputan (1997)

  1. Y.B Mangunwijaya
Burung-burung Manyar (1981)


  1. Darman Moenir
Bako (1983)
Dendang (1988)

  1. Budi Darma
Olenka (1983)
Rafilus (1988)

  1. Sindhunata
Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
Arswendo Atmowiloto
Canting (1986)

  1. Hilman Hariwijaya
Lupus - 28 novel (1986-2007)
Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
Olga Sepatu Roda (1992)
Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)

  1. Dorothea Rosa Herliany
Nyanyian Gaduh (1987)
Matahari yang Mengalir (1990)
Kepompong Sunyi (1993)
Nikah Ilalang (1995)
Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)

  1. Gustaf Rizal
Segi Empat Patah Sisi (1990)
Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
Ben (1992)
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)

  1. Remy Sylado
Ca Bau Kan (1999)
Kerudung Merah Kirmizi (2002)

  1. Afrizal Malna
Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
Dinamika Budaya dan Politik (1991)
Arsitektur Hujan (1995)
Pistol Perdamaian (1996)
Kalung dari Teman (1998)


Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
  1. Widji Thukul
Puisi Pelo
Darman

Angkatan 2000-an

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
  1. Ayu Utami
Saman (1998)
Larung (2001)
Seno Gumira Ajidarma

  1. Atas Nama Malam
Sepotong Senja untuk Pacarku
Biola Tak Berdawai


  1. Dewi Lestari
Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
Supernova 2.1: Akar (2002)
Supernova 2.2: Petir (2004)
Raudal Tanjung Banua
Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
Ziarah bagi yang Hidup (2004)
Parang Tak Berulu (2005)
Gugusan Mata Ibu (2005)

  1. Habiburrahman El Shirazy
Ayat-Ayat Cinta (2004)
Diatas Sajadah Cinta (2004)
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
Dalam Mihrab Cinta (2007)

  1. Andrea Hirata
Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov (2008)
Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)

  1. Ahmad Fuadi
Negeri 5 Menara (2009)
Ranah 3 Warna (2011)

  1. Tosa
Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
Melan Conis (2009)













Cybersastra

Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya semisal : duniasatra(dot)com.
[sunting]
Pranala luar
http://www.sumpahpalapa.com/ (lihat link sastra)
http://www.cybersastra.net/
[sunting]
Referensi
^ Ricklefs, M.C. (10 Juni 1991). A History of Modern Indonesia 1200-2004. London: MacMillan. hlm. 117.
^ Mahayana, Maman S, Oyon Sofyan (10 Juni 1991). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo. hlm. 370.
^ Yudiono (10 Juni 2007). Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo. hlm. 167.