Images

LOLOS

Hari ini seperti mimpi bagiku, saat aku bangun di pagi hari tak ada suara kegaduhan dari luar kamarku, semuanya tampak tenang dan hening. Aku melirik pada jam beker yang berada di meja belajarku 06.30. biasanya pada jam segini ibu masuk kekamarku dan selalu memarahi dan merepeti ku karena aku terlambat bangun dan pastinya aku akan terlambat sampai di sekolah. Dan pada jam segini pula biasanya adikku, Dido, yang masih duduk di Sekolah Dasar bernyanyi sekeras-kerasnya di dalam kamarku hingga telingaku terasa nyaris meledak, di tambah lagi suara jeritan kakak yang melengking, melarang Dido bernyanyi. Inilah kegaduhan yang hampir setiap hari terjadi di rumah.
Dengan rasa penasaran aku beranjak dari tempat tidur menuju pintu, sambil mengucek mataku yang masih terasa berat, aku berjalan pelan melewati suasana kamar yang memang agak gelap karena lampu selalu di matikan ketika aku tidur. Kubuka pintu kamarku namun suasana masih saja tenang dan hening. Aku melirik ke kamar kakak, tak ada lagi orang. Namun ketika aku memasuki dapur, semua keluarga terkumpul di meja makan sedang menikmati sarapan.
“Ternyata, kamu sudah bangun Di. Ayo lekas mandi agar sarapan dan berangkat”, ujar Ibu mengejutkanku yang baru saja keluar dari kamar adik.
“Ayo lekas Gandi, kita berangkat bersama” kakak menambahkan.
Sekilas aku melihat keluar rumah yang sudah tampak terang. Lalu aku melihat ayah yang masih saja duduk santai menyantap sarapannya. Padahal, biasanya ayah berangkat kerja bersamaan dengan matahari terbit karena tempat kerjanya yang tidak dekat dari rumah. Dengan segala kebingungan yang ada dalam hati, aku bergegas mandi dan segera menyusul ke meja makan. Dengan kebingungan itu pula aku merasa bahagia hari ini karena keluarga dapat berkumpul dan makan bersama pada pagi hari. Hari ini sifat Ibu yang cerewet serasa hilang di telan bumi, juga suara Dido dan kakak seperti kilatan petir yang sambung menyambung saat hujan.
“Gandi, ni uang jajan kamu Ibu lebihkan karena ini hari sabtu pastinya kamu ingin jalan-jalan kan?” , sapa Ibu sambil menjulurkan tangannya padaku.
Kulihat uang itu berwarna hijau.
“Tumben Ibu memberiku uang lebih” kataku dalam hati.
Setelah sarapan kami pun berangkat kesekolah sedangka ayah berangkat kerja. Mereka kelihatan sangat santai seperti tidak akan terjadi apa-apa. Padahal aku dan kakak pasti akan terlambat sampai di sekolah kami, apalagi ayah yang tempat kerjanya lumayan jauh. Pikiran ku kacau dan lebih bingung dari yang sebelumnya.
Sesampainya di sekolah, semuanya kelihatan tenang, tidak ada murid yang datang terlambat hari ini termasuk aku. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 07.45. Mungkin karena pagi ini penjaga sekolah sedang asyik membaca korannya. Walau begitu aku tetap bergegas menuju kelas karena Ibu Widya, guru Mate-Matika yang cerewet itu pasti telah masuk. Benar saja, sesampainya aku di pintu, semua mata tertuju padaku termasuk Ibu Widya.
“Permisi bu, boleh saya masuk?” ucapku dengan nada pelan dan agak takut.
Ibu Widya berjalan menuju ke arahku, tentunya aku makin takut. Sesampainya ia di hadapanku ia berkata dengan nada yang lemah, “ Kenapa kamu terlambat Gandi? Cepatlah masuk agar kita lanjutkan pelajaran kemarin yang tertunda!”
Aku tercengang akan kata-kata bu Widya, namun aku bergegas duduk karena takut pikirannya berubah, barangkali. Setelah aku duduk, bu Widya melanjutkan pelajrannya , sedangkan aku melihat sekelilingku, semuanya tenang termasuk Sandi yang biasanya tidak mau diam di dalam kelas. Sekilas aku melihat Rini yang tampak agak murung dan kelihatan marah pada wajahnya yang sangat manis menurutku. Ya menurutku. Karena dia telah menjadi pacarku sejak 3 bulan yang lalu. Namun ia kelihatan aneh pagi ini. Biasanya, walaupun ia punya masalah ia selalu tersenyum melihatku seakan-akan masalah hilang .oleh wajahku ini. Melihat Rini seperti itu, aku pun menuliskan pesan pendek pada secarik kertas bertuliskan:
Ada apa sayang….? Kok kamu kelihatan murung?”.
Kulipat kertas tsb dan aku melemparkannya saat ibu Widya menulis di papan tulis. menggelengkan kepala dan berkata:
“ nggak apa-apa”, dengan suara halus dan aku mengerti dari gerakan bibirnya. Namun, dari gerakan bibirnya pula aku tau sepertinya ia marah. Aku tidak tahu kenapa. Sepertinya aku tidak berbuat salah dan tadi malam kami baru saja sms an dengan nada yang mesra, sayang-sayangan. Aku bingung dan tak mengerti sehingga aku menuliskan surat pendek lagi yang berisi :
“Ntar, pulang kita ketemu di tempat biasa ya yank”.
Ia membalas suratku dengan kata:
“Iya” saja.
Aku tak mengerti namun agak senang karena ia mau menerima ajakan ku bertemu di tempat favorit kami. Di atap gedung sekolah kami yang berlantaikan tiga. Kami sering duduk dan melihat pemandangan pepohonan dari tepi atap gedung yang berpagar ±1m.
Tak berapa lama aku menunggu di atap gedung sekolah kami Rini pun mendekatiku, dengan wajah yg murung dan kelihatan marah, ia berdiri disampingku, di tepi atap gedung.
Ada apa denganmu yank? Ada masalah ya? Katakana saja, mungkin aku bisa membantu…” kataku sambil berdiri di hadapannya.
Rini hanya diam mendengarku. Kupandang wajahnya. Semakin lama aku memandangnya, ia menunjukkan hal yang tidak biasa dari wajahnya. Sekilas ia tampak sedih. Sekilas ia tampak murung. Sekilas ia tampak marah. Sekilas ia seperti orang yang terkejut dengan desahan nafasnya yang tidak teratur
Ia tersenyum. Ia mengejek. Ia sinis.
Ia berkata, “Aku cinta kamu”
Namun yang tak kuduga, bersamaan dengan ketika ia mengucapkan kata-kata itu. Ia mendorong tubuhku kebelakang. Aku terkejut. Aku mencoba untuk tidak jatuh. Namun, dorongan dari segenap kekuatannya mengalahkan usahaku untuk tidak jatuh. Aku melayang. Aku terbang. Kulihat ia tersenyum bahagia. Sekali lagi aku merasa sangat bingung.
***
Aku tersadar, aku terbangun. Namun gelap. Disekelilingku gelap.
“Aku mati ?!!?” Aku mati ?? Tidak !! Tidak! Jangan !!”, aku meronta dan menjerit.
Tiba-tiba disisi lain sesosok tubuh datang dari sebuah pintu yang terang, aku berpikir itu adalah malaikat.
“Gandi…..kamu nih apa-apaan sih….? Kok kamu tidur di bawah? Kamu jatuh dari tempat tidur ya? Memang ibu sengaja mematikan lampu supaya listrik kita agak hemat”.
Aku terdiam. Aku tercengang. Kudengar suara adik bernyanyi dengan volume yang keras dan juga suara kakak yang melengking, melarang adik bernyanyi.
“Ayo mandi. Sudah pukul 06.20!! kamu bakal terlambat pergi ke sekolah!”, suara ibu menghamburkan kebingunganku sambil berlalu menuju keluar kamar.
Ku dengar HP ku berdering. Aku terkejut. Rini menelfon. Ku angkat telfon dengan ragu dan meletakkannya di telingaku.
“Pagi sayang……. Pa kabarmu hari ini?”, suara Rini dengan ramah dan lembut menyapa.
Untuk kesekian kalinya kebingunganku meledak. Aku baru saja lolos dari sebuah mimpi.

0 Comment: